Rabu, 08 Juni 2011

SEBUAH KAJIAN HEURISTIK DAN HERMENEUTIK PUISI “SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH” KARYA TAUFIK ISMAIL


SEBUAH KAJIAN HEURISTIK DAN HERMENEUTIK PUISI “SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH” KARYA TAUFIK ISMAIL


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sanggar Bahasa
Pengampu : Drs. Suyitno, M. Pd.

Disusun Oleh :
Yanuri Natalia Sunata
K1209075

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
SEBUAH KAJIAN HEURISTIK DAN HERMENEUTIK PUISI “SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH” KARYA TAUFIK ISMAIL
A. Latar Belakang Puisi
Puisi berjudul Sebuah jaket Berlumur Darah ini merupakan karya Taufik Ismail yang diciptakan pada tahun 1966 sebagai luapan amarahnya atas kematian seorang mahasiswa. Sebuah jaket berkumur darah adalah penggambaran utuh dari kematian Arief Rachman Hakim, mahasiswa Kedokteran Universitas Indonesia yang meninggal tertembak dalam pergolakan menjatuhkan Orde lama. Puisi ini mempertontonkan perasaan penyair dengan sangat vulgar dan terbuka. Mungkin Taufik Ismail ingin puisinya menjadi milik masyarakat secara umum. Sehingga hasilnya, puisi-puisinya pun kerap dibaca pada mimbar demonstrasi mahasiswa saat turun ke jalan menentang pemerintah.
“Sebuah Jaket Berlumur Darah” berbeda sekali jika dibandingkan dengan puisi Taufik lainnya. Sebuah puisi yang dibentuk karena ketakjuban atas keindahan. Puisi ini ditulis dengan emosi dan amarah sebab Taufik merasakan ketidakadilan. Hal itulah yang membuat Taufik Ismail begitu ingin merekam keseluruhan perasaannya dan menyampaikan pula secara langsung kepada masyarakat.
B. Kajian Strukturalistik, Heuristik, dan Hermeneutik

Kata ‘struktur’ dalam termi-nologi sastra, seperti telah dijelaskan, mempunyai arti sebagai kesatuan totalitas cipta sastra yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan sating memberi makna satu lama lain. Bagian-bagian dalam kesatuan itu melakukan regulasi diri, artinya yang satu berkaitan dan memberi makna kepada yang lain dan bagian-bagian itu hanya bermakna pada dan dalam totalitasnya (Waluyo, 1990: 153)
Kajian strukturalistik mendasar¬kan telaah sastra pada konsep pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyak bersifat otonom (Teeuw, 1984: 150). Hal ini selaras dengan ciri khas strukturalisme, yakni: anti kausal dam anti sejarah, artinya dalam menelaah karya sastra, kritikus tidak usah mempertimbangkan faktor kausal dam faktor sejarah (Waluyo, 1990: 153). Kritikus harus meberikan makna pada setiap aspek dan anasir karya sastra yang semuanya mendapat makna penuhnya dari fungsinya dalam totalitas karya tersebut (Teeuw, 1984:130)
Strukturalisme sebagai pendekatan memandang karya sastra sebagai suatu kebulatan makna, akibat perpaduan isi dengan pemanfaatan bahasa sebagai alatnya. Dengan kata lain, pendekatan ini memandang dan menelaah sastra dari segi yang membangun karya sastra, yaitu tema, alur, latar, penokohan, dan gaya bahasa (Atar Semi, 1989/: 45). Hal ini berarti bahwa penelitian tentang sastra, atau katakanlah kritik sastra harus berpusat pada karya sastra itu sendiri, tanpa memprhatikan sastrawan dan atau penyair sebagai pencipta, pembaca sebagai penikmatnya, dan hal-hal yang disebut faktor ekstrinsik yang berada di luar karya itu sendiri.
Pendekatan strukturalisme juga melihat sastra dalam struktur kebudayaan secara menyeluruh. Dengan demikian sebuah karya sastra terdiri dari unsur-unsur struktural yang membentuk suatu organisasi yang sangat kompleks yang terdiri dari berbagai lapisan dengan aneka makna yang saling berkaitan.
Demikianlah, dengan mengacu pada pendapat-pendapat di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa untuk memahami suatu sastra harus dimulai dari karya itu, sendiri sebagai struktur yang bersifat otonom, sebelum karya tersebut dihubungkan dengan unsur¬unsur di luar dirinya. Sastra dinilai dalam hubungan sastranya terlebih dulu, dibebaskan dari hubungan dengan so¬sialnya. Oleh karenanya kajian struk¬turalistik dapat digunakan sebagai langkah awal memahami karya sastra.
1. Heuristik
Pendekatan heuristik berkait erat dengan pencarian arti (meaning) yang setiap karya sastra hanya satu , pendekatan hermeneutik berkait erat dengan pencrian makna (significance) yang dalam setiap karya sastra berkemungkinan banyak. Dan kelahiran makna karya sastra senantiasa ber¬hubungan dengan kelanjutan komunikasi antara arti karya sastra dengan seorang per seorang pembaca, antara arti dengan karya sastra dengan situasi sosial tertentu di lokal tertentu, maupun arti karya sastra dengan hal-hal tertentu lainnya.
Apabila pencarian arti puisi Jaket berlumur darah kita tempuh melalui pembacaan heuristik maka penjelasan ilustrasinya seperti berikut ini:
(Ini adalah) sebuah (kisah) jaket (yang) berlumur(-kan) ( penuh) darah (merah)
(Dan) kami semua (disini) telah menatapmu
(Yang) telah pergi (jauh meninggalkan) duka yang (Maha) agung
(Di) dalam (sebuah perasaan yang penuh) kepedihan (yang telah terasa selama) bertahun-tahun

Sebuah sungai (telah) membatasi kita
Di bawah (panasnya) terik matahari (di kota) Jakarta
Antara (suatu) kebebasan dan (sebuah) penindasan
(Dengan) berlapis(-kan) senjata dan (ganasnya) sangkur (yang terbuat dari bahan) baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan (kata) ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar (penuh) setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk (yang telah) kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan (itu)
Menunduk bendera (yang dipasang) setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui (beberapa) kendaraan yang (ramai) melintas (di jalanan)
Abang-abang (tukang) becak, kuli-kuli (yang ada di) pelabuhan
(Dan) teriakan-teriakan (yang ada) di atas bis kota, (serta) pawai-pawai (yang penuh ke-) perkasa (-an)
(Di saat acara) prosesi (mengantarkan) jenazah (menuju) ke (tempat) pemakaman
Mereka berkata
(Dan) semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN


2. Hermeneutik

Pendekatan hermeneutik meng¬hendaki penafsiran, sehingga makna puisi sudah barang tentu dipengaruhi persepsi pengetahuan dan pengalaman pembaca per pembaca, input lingkungan pembaca, perspektif atau bia dimensi kepentingn pembaca, dan hal-hal lain yang berasal dari faktor ekstrinsik puisi.
Pencarian arti secara heuristik tersebut baru menjelaskan arti kebahasan puisi objek kajian. Makna puisinya harus dicari dengan pembacaan hermeneutik, pembacaan yang diberi tafsiran sesuai dengan tata aturan sastra sebagai sistem semiotik.
Pada awal membaca puisi sebuah jaket berlumur darah muncul sebuah pertanyaan kepada siapakah puisi tersebut ditujukan?. Jika dilihat dari kata dan latar waktu yang terjadi yaitu sekitar tahun 1966 yaitu di saat itu tepatnya tanggal 10 Januari 1966 berlangsung demonstrasi mahasiswa UI (Universitas Indonesia) dalam menindaklanjuti penetapan Presiden No.27 Tahun 1965 (lembaran Negara RI No.102, 1965) tentang Pengeluaran uang rupiah baru yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah bagi seluruh wilayah Republik Indonesia dan penarikan uang rupiah lama dari peredaran yang berimbas pada naiknya harga. Dalam perjuangan mahasiswa tahun 1966 menumbangkan rezim Soekarno, sejumlah anak muda menemui kematiannya karena kekerasan. Hal ini tergambarkan dalam puisi tersebut dengan kata-kata:

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Dari kata-kata tersebut dapat terekam puisi ini dipersembahkan kepada para korban (mahasiswa) yang telah gugur pada saat demonstrasi dalam memperjuangkan kepoentingan rakyat. Puisi ini merupakan sebuah representatif dari segenap usaha perjuangan mahasiswa di waktu itu yang terbunuh adalah mahasiswa Kedokteran Universitas Indonesi, Arief Rachman Hakim.
• Kata Telah pergi duka yang agung mengandung arti yaitu sebuah kedukaan yang begitu mendalam dirasakan.
• Di bawah terik matahari Jakarta, mengandung arti yaitu sebuah perjuangan pada masa itu terjadi di kota Jakarta yang digambarkan pada siang hari dengan terik matahari.
• Berikrar setia kepada tirani, mengandung arti sebuah sikap patuh dan setia pada sebuah kekuasaan.
• Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?, artinya menghumbarkan sikap pengecut.
• Menunduk bendera setengah tiang, mengandung arti sebuah penghormatan tertinggi pada para korban yang gugur dengan mengibarkan bendera setengah tiang.

Dalam puisi tersebut pengarang mencoba memberikan sebuah jurang pemisah antara penguasa dan rakyat dengan diibaratkan sungai pembatas. Penguasa yang penuh dengan kediktatoran dan rakyat yang selalu dikekang kebebasan dan mengalami penindasan dalam menyuarakan aspirasinya.
Puisi ini juga menampilkan sebuah potret saling kebersamaan dan sikap pantang menyerah walaupun pihak mahasiswa kala itu banyak yang gugur. Kematian mereka di adalam puisi ini digambarkan penuh dramatis dan mendapat penghormatan yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan kata :
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pada akhir puisi ini digambarkan sebuah pesan yang harus dicatat dalam memperjuangkan sebuah aspirasi yaitu sebuah tekad yang tulus dan penuh keyakinan untuk selalu maju dan melanjutkan perjuangan dengan penuh rasa kebersamaan, meskipun banyak halangan merintang dan nyawa jatuh berguguran. Sebuah penghormatan tertinggi layak kita haturkan kepada mereka yang telah berjuang membela rakyat.

C. Lampiran

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang becak, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN

1966
Sumber: Tirani dan Benteng

2 komentar:

  1. Kalo d.jadikan teaterikal puisi gmana y? Crt yg pas? Tlg bgt

    BalasHapus
  2. saran yg bagus..pnyampaian makna lewat teatrikal akn lbih terasa...dan dapat juga teatrikal trsebut didasari pada sebuah kajian heuristik dan hermeneutik di ats :)

    BalasHapus